The Fed Ramalkan Periode Pertumbuhan Rendah yang Panjang untuk Melawan Inflasi

September 26, 2022 20:27

"Mengurangi inflasi kemungkinan membutuhkan periode pertumbuhan di bawah tren yang berkelanjutan dan ada kemungkinan beberapa pelemahan di kondisi pasar tenaga kerja.” Ketua Federal Reserve Jerome Powell.

Ketua Federal Reserve Jerome Powell menuangkan air dingin pada sentimen pasar selama rapat bulan September ketika pemimpin bank itu meramalkan periode pertumbuhan di bawah tren yang berkelanjutan sebelum inflasi mereda. Kenaikan suku bunga 0.75 persen The Fed mendukung USD, yang naik terhadap EUR, membawanya ke terendah 20 tahun.

Dengan AS yang saat ini berada dalam resesi teknis, The Fed bertaruh bahwa kebijakan moneter yang lebih ketat dan pertumbuhan yang rendah dapat meredakan inflasi sebelum pasar tenaga kerja goyang dan inflasi tinggi menjadi stagflasi. Sejauh ini, sektor pekerjaan AS telah mempertahankan pertumbuhan yang kuat dengan angka pengangguran berada di tingkat rendah beberapa dekade. Namun, saat ekonomi melemah, tren ini meningkatkan risiko terhadap situasi tenaga kerja AS. Bank sentral itu meramalkan estimasi kehilangan pekerjaan sekitar 1 juta dan tingkat pengangguran di 4.4 persen.

Tidak hanya pasar tenaga kerja yang melihat koreksi, pasar perumahan juga akan terpengaruh oleh resesi yang lebih sulit, menurut Federal Reserve. 

"Untuk jangka panjang, yang kita butuhkan adalah permintaan dan penawaran yang lebih selaras, sehingga harga perumahan naik pada tingkat dan kecepatan yang wajar, dan orang-orang dapat kembali mampu membeli rumah.” Jerome Powell.

Adakah gema resesi yang dipicu oleh krisis perumahan sub-prime dalam skenario ekonomi saat ini? Ini pertanyaan yang bagus mengingat dampak luas dari sektor perumahan yang lemah di AS. Di permukaan, beberapa detail terlihat tampaknya menunjukkan kemiripan.

  • Periode suku  bunga rendah dari 2003 – 2004 menciptakan gelembung di sektor perumahan. 
  • Federal Reserve meningkatkan suku bunga dengan cepat dari 1 persen pada pertengahan 2004 menjadi 5.25 persen pada pertengahan 2006. 

Perbedaan antara dulu dan sekarang juga patut diperhatikan.

Pasar perumahan runtuh tahun 2007 karena pemegang hipotek rumah tangga yang rentan gagal membayar hutang dan pada awal 2008, AS berada dalam Great Recession. Sementara kita tidak dapat meramalkan masa depan, pada tahun 2022, pasar tenaga kerja di AS tangguh dan gagal bayar pada pinjaman rumah tangga bukan masalah. Selain itu, ada respons regulasi yang kuat untuk mencegakh eksposur masa depan terhadap sektor pinjaman sub-prime.

Penyebab hambatan ekonomi hari ini benar-benar berbeda, mereka adalah inflasi dan pemulihan yang tidak merata dari pandemi COVI-19, bukan gagal bayar pinjaman sub-prime. Akhirnya, suku bunga berada di jalur untuk mencapai 4.6 persen tahun 2023, masih rendah dari 5.25 persen pada tahun 2006. Namun, tingkat utang rumah tangga naik menjadi 16 triliun USD pada kuartal kedua, dan mengingat kenaikan suku bunga, penting bahwa sektor pekerjaan tetap tangguh untuk menghindari terjadinya default atau gagal bayar utang.

Poin penting

  • Risiko terhadap USD meningkat.

Meningkatnya risiko terhadap pertumbuhan ekonomi dan pasar tenaga kerja AS bisa sering kali memiliki dampak terhadap kekuatan USD. Nilai mata uang itu melonjak bersamaan dengan suku bunga, kemungkinan menambahkan dampak inflasi, setidaknya di pasar minyak mentah yang berdenominasi USD. Jika resesi di AS semakin mendalam, ia dapat mempengaruhi kepercayaan investor dan melemahkan USD dalam jangka pendek, sehingga mungkin mengempiskan harga di pasar energi.

  • Suku bunga AS akan menuju 4.6 persen pada tahun 2023 dan 4.4 persen pada akhir tahun ini.

Pasar obligasi negara dan pendapatan sektor perbankan di AS dapat diuntungkan dari kenaikan suku bunga karena mereka adalah sumber arus kas, asalkan ekonomi yang lebih luas mendukung perkembangan tersebut. Di sisi lain, tingkat pembayan kembali hipotek akan naik di pasar perumahan, kemungkinan memperlambat sektor perumahan dan konstruksi.

  • Inflasi akan susah dihilangkan hingga efek pasca pandemi mereda.

Sementara faktor geopolitik yang berasal dari Ukraina telah meningkatkan inflasi, ada pasokan minyak mentah alternatif dari OPEC dan AS. Efek pasca pandemi adalah pendorong inflasi masa depan yang paling dinamis karena perjalanan dan aktivitas ekonomi di seluruh dunia meningkat, tapi mungkin yang paling penting, di China.

Kebijakan zero toleransi COVID telah menahan banyak pemulihan di jantung industrinya, mempengaruhi sektor manufaktur utama lainnya dalam ekonomi global. Ini tampaknya berakhir setelah CDC China menganjurkan booster vaksin COVID keempat sebagai jalan keluar dari pandemi.

Terakhir, Federal Reserve masih dan akan tetap hawkish untuk jangka menengah.

“Kita harus membuat inflasi berlalu. Saya harap ada cara yang tidak menyakitkan untuk melakukannya. Namun, nyatanya tidak... Kami akan terus melakukannya sampai kami yakin ia telah berhasil dilakukan." Jerome Powell.

Berlatih trading di akun demo bebas risiko dari Admirals. Klik banner di bawah untuk daftar hari ini!

Akun Demo Bebas Risiko

Daftar akun demo online gratis dan kuasai strategi trading Anda

Materi ini tidak mengandung dan tidak boleh ditafsirkan sebagai nasihat investasi, rekomendasi investasi, penawaran, atau ajakan untuk melakukan transaksi apa pun dalam instrumen keuangan. Harap dicatat bahwa analisis perdagangan seperti ini bukan merupakan indikator yang dapat diandalkan untuk kinerja saat ini atau di masa depan, karena keadaan dapat berubah seiring berjalannya waktu. Sebelum membuat keputusan investasi apa pun, Anda harus mencari saran dari penasihat keuangan independen untuk memastikan bahwa Anda mengerti risikonya.

Sarah Fenwick
Sarah Fenwick Penulis Keuangan

Sarah Fenwick memiliki latar belakang jurnalisme dan komunikasi. Sebelumnya ia bekerja sebagai koresponden yang meliput berita untuk Bursa Efek Swiss dan ia telah menulis tentang keuangan dan ekonomi selama 15 tahun.